Mencintai Secara Sempurna

Tulisan ini dibuat pada tanggal 01 Mei 2006. Ketika masih duduk di bangku SMA. Sengaja ditulis untuk dijadikan bahan renungan. Target pembaca sih, anak muda. Setelah menikah, rasanya suka senyum sendiri kalau membaca tulisan ini.

Semangat menulis membuat saya menghasilkan beberapa naskah yang bisa dijadikan bahan renungan. Salah satunya akan saya bagikan.

====

"Cinta yang sesungguhnya adalah bagaimana mencintai orang yang tidak sempurna secara sempurna."

Mencintai seseorang secara sempurna artinya mencintai dengan segenap hati dan tanpa syarat. Orang yang mencintai tanpa syarat akan tetap mencintai meskipun ia tahu bahwa ada kekurangan di dalam diri pasangannya.

Saya termasuk orang yang selektif. Sama seperti yang lain, saya juga membuat beberapa karakteristik cowok idaman. Misalnya, pengen punya cowo ganteng dan berpenampilan menarik. Hayoo..yang lain juga pada mau, kan? Trus, pengen punya cowo tajir, gaul, cool, putih, tinggi, sporty, de el el. Semua karakteristik yang dibuat mengacu pada kesempurnaan. Yaitu menginginkan sosok sempurna dan menjadi seorang hero bagi kita.

Tetapi pada kenyataannya, tidak ada orang yang mendapat pasangan sesempurna yang diidamkannya. Pasti ada saja kekurangan yang muncul dari sosok pasangannya. Apakah itu dari segi penampilan atau sifat. Misalnya, terlalu pendeklah, kurang handsome lah, kurang keren lah, kurang perhatian lah. Ada sebagian orang yang mau menerima kekurangan itu karena mereka sadar tidak ada yang sempurna. Tetapi ada juga yang pengen dapat yang sempurna. Nah lho?


Seharusnya kita sadar dong, yang sempurna itu cuma ada satu. Tiada duanya. Allah, ya, Dialah yang sempurna di dunia ini. Sebagai seorang Kristen, seharusnya yang menjadi patokan utama dalam mencari pacar atau pasangan adalah keimanan. Seiman ngga dia dengan kita? Bukannya malah menilai seberapa ganteng kah dia? Seberapa cantik kah dia? Sehingga saat kita tau kalau dia mempunyai kekurangan, kita jadi ilfeel melihatnya.

Tetapi lain halnya jika yang kita patokkan lebih awal adalah keimanan. Dalam II Korintus 6:14 dikatakan, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya." Kita diajarkan untuk mencintai dengan tulus, memilih pasangan yang seimbang yang sesuai dengan iman kita.

Dengan demikian, kita menjadi lebih mengandalkan Tuhan, sehingga kita diberikan hati yang tulus untuk menerima kekurangan orang lain. Bukankah diri kita sendiri mempunyai kekurangan juga? Nah, untuk apa coba kalau kita menuntut kesempurnaan dari orang lain? Kekurangan-kekurangan yang ada inilah yang nantinya akan mempersatukan kita untuk saling melengkapi. Sehingga kita tetap berusaha dengan sempurna mencintai dia.

"Sebab itu terimalah satu akan yang lain,sama seperti Kristus juga, telah menerima kita untuk Kemuliaan Allah" (Roma 15:7)

Komentar